Padahal Tinggal Satu Jari

Table of Contents

Padahal Tinggal Satu Jari

Padahal Tinggal Satu Jari

Saat sedang asyik melukis kuku jari kaki dan tangan dengan kuteks pinjaman, tiba-tiba saya dikejutkan oleh keadaan isi botol kuteks yang ‘sekarat’. “Lho, kuteksnya habis…Padahal tinggal satu jari saja lho…”

Namun apa daya, sekali habis tetaplah habis. Meski dikeruk, dikocok, atau diberi pencair kuteks, warna sisa-sisa kuteks yang dihasilkan tetap berbeda dengan warna di jari lainnya.

Pengalaman ini menyadarkan saya bahwa yang sedikit itu bisa jadi sangat berarti.

Coba Anda bayangkan, semua kuku jari kaki penuh warna pink. Oh cantiknya! Namun ketika pandangan mata beranjak ke kuku tangan, yang ada hanyalah 9 jari ‘terisi’, dan satunya tertinggal pucat tanpa warna. Kelihatannya kurang sempurna…

Padahal mungkin hanya diperlukan setetes saja kuteks tambahan. Setetes yang mungkin tak berarti bila botol kuteks berada dalam keadaan penuh.

Inilah sebuah keadaan yang menyadarkan saya bahwa apa yang tampaknya sepele bisa jadi sangat penting pada suatu saat. Seperti setetes kuteks dalam botolnya yang kosong, atau setetes air untuk melegakan dahaga pasien paska operasi usus buntu (yang pernah mengalaminya pasti tahu bagaimana susahnya tidak boleh minum setelah operasi).

Kerabat Imelda….Pertanyaan muncul sekarang, adakah di antara Anda yang merasa dirinya sepele dan tak berarti? Entah itu di rumah, kantor, atau sekolah? Atau, apakah ada yang merasa bahwa pemberiannya terlalu kecil dan tak berharga bagi orang lain? Ingat, apa yang tampak sepele bagi Anda, mungkin sangat berarti bagi orang lain. Jadi, jangan sekali-kali meremehkan hal kecil ya.

Baca Juga :