Hangatnya Diskusi Budaya di Tiga Simposium World Culture Forum

Hangatnya Diskusi Budaya di Tiga Simposium World Culture Forum

Hangatnya Diskusi Budaya di Tiga Simposium World Culture Forum

Setelah hari pertama kemarin diisi dengan Cultural Visit atau Kunjungan Kebudayaan

, di hari kedua World Culture Forum (WCF) 2016 peserta mengikuti simposium internasional dengan tiga tema berbeda. Setiap peserta memilih simposium sesuai dengan tema yang diminatinya, kemudian mendengarkan paparan narasumber dan berdiskusi tentang budaya yang berkelanjutan untuk dunia.

Simposium Satu mengambil tema “Reviving Culture for Rural Sustainability”

atau “Menghidupkan Kembali Kebudayaan untuk Keberlanjutan Pedesaan”. Dalam simposium ini ada empat pembicara, yaitu Lanying Zhang (Direktur Pusat Rekonstruksi Pedesaan Liang Shuming di Cina), Aleta Baun (Kepala Desa Molo, Nusa Tenggara Timur), Soon Tak Lee (Universitas Yeungnam, Korea Selatan ), dan Diyah Larasati (penari profesional).
Lanying Zhang menekankan pentingnya keberadaan pedesaan dan petani dalam keberlangsungan hidup manusia. “Siapa yang bisa hidup di bumi tanpa petani? Tanpa peran petani, tidak ada makanan yang dapat kita makan,” katanya di Bali Nusa Dua Convention Center, (11/10/2016).
Mendukung pernyataan Lanying Zhang, Soon Tak Lee juga menekankan pentingnya  peran pedesaan dalam menyediakan air bersih. Ia memaparkan tentang perspektif budaya air dalam keberlanjutan pedesaan dengan referensi khusus untuk gerakan desa baru. “Manusia selalu mencari keamanan dalam kaitan dengan air, misalnya menemukan air yang bagus untuk digunakan dalam keperluan sehari-hari,” katanya.

Simposium Dua mengambil tema “Water for Life: Reconciling Socio Economic Growth and Environmental Ethics”

atau “Air untuk Kehidupan: Rekonsiliasi Sosial Pertumbuhan Ekonomi dan Etika Lingkungan”. Empat pembicara di Simposium Dua ini adalah Satoko Kishimoto (Institut Transnasional ‘Water Justice Project’), Wayan Windia (Ahli Subak), Hendro Sangkoyo (aktivis lingkungan), dan Semsar Yazdi (Direktur Pusat Internasional Qantas dan Struktur Hidrolik Bersejarah).
Yang menarik dari Simposium Dua adalah pembahasan tentang pelestarian Subak yang menjadi perhatian dunia. Setiap budaya memiliki upacara dan aturan yang berbeda, seperti Subak. Dengan berbicara mengenai air, kita juga dapat melihat sistem Subak di Bali. Subak adalah warisan budaya yang sangat penting di Bali. Para peserta di Simposium Dua sepakat untuk melestarikan Subak dan warisan budaya dunia lainnya serta menginformasikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi selanjutnya. Mereka juga sepakat untuk meninjau kembali sistem irigasi atau pengairan sawah di tiap negara, apakah berdasarkan aturan negara semata, atau juga berlandaskan pada nilai budaya.
Simposium Tiga mengambil tema “Interweaving History, Urban Space, and Cultural Movement” atau “Menjalin Sejarah, Ruang Kota, dan Gerakan Budaya”. Hadir sebagai pembicara dalam Simposium Tiga, yaitu Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Shahbaz Khan (Direktur Kantor UNESCO Jakarta), Nyoman Nuarta (seniman), dan Arief Aziz (Direktur Kampanye Change.org Indonesia).
Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memaparkan mengenai program-program budaya yang diterapkannya di Kota Bandung sebagai kebijakan pemerintah daerah. Beberapa program yang disampaikannya antara lain Rebo Nyunda, yaitu menerapkan budaya Sunda setiap hari Rabu dengan berpakaian khas Sunda dan berbahasa Sunda dalam percakapan. “Kami juga memiliki festival budaya. Festival tidak harus selalu diadakan di tempat bagus dan mewah. Festival bisa diselenggarakan di mana saja, misalnya di jalanan. Festival adalah kegiatan yang penting, karena kita sebagai manusia butuh untuk mengeskpresikan budaya kita,” ujarnya.
Sementara Direktur Kantor UNESCO Jakarta, Shahbaz Khan, memaparkan tentang Jaringan Kota Kreatif (Creative Cities Network) yang menjadi program UNESCO. Ada tiga kategori Kota Kreatif dari UNESCO, yaitu berdasarkan literasi, film, dan musik.
Direktur Kampanye Change.org Indonesia, Arif Aziz, mengatakan, di era digital sekarang ini, sebuah gerakan perubahan bisa dimulai dengan melakukan kampanye di dunia digital. Namun, setidaknya ada empat kondisi yang membuat kampanye gerakan perubahan di dunia digital dapat efektif, yaitu media yang independen dan bertanggung jawab, pemerataan akses bagi semua pihak, masyarakat yang dinamis, dan pembuat kebijakan yang terlibat secara digital dengan masyarakat.